BADAN LITBANGKES GANDENG BPS DAN PDGI UNTUK PELAKSANAAN RISKESDAS 2018

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 merupakan penelitian bidang kesehatan berbasis komunitas yang hasilnya dapat menggambarkan kondisi tingkat nasional sampai dengan tingkat kabupaten/kota. Riskesdas dilaksanakan secara berkala setiap 5 tahun karena dianggap interval yang tepat untuk menilai perkembangan status kesehatan masyarakat, faktor risiko, dan perkembangan upaya kesehatan.

Tujuan riset ini adalah untuk menyediakan informasi terkait indikator morbiditas, disabilitas, dan status gizi, menyediakan informasi besaran masalah berdasarkan faktor risiko dari indikator morbiditas, disabilitas dan status gizi, menyediakan gambaran permasalahan morbiditas dan faktor risiko baik pada tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota. Pada Riskesdas 2018 ini Badan Litbangkes menggandeng pihak BPS untuk diintegrasikan dengan Susenas 2018, dimana indikator yang sama cukup dilakukan pada salah satu survei. Demikian juga blok sensus dan rumah tangga sampel yang dikunjungi menggunakan sampel pada pelaksanaan Susenas yang dilakukan lebih awal yaitu pada bulan Maret 2018.

Sebagai rangkaian kegiatan ini diselenggarakan Rapat koordinasi Teknis (Rakornis) tingkat pusat yang dibuka secara resmi oleh Menteri Kesehatan Nila F Moeloek di Bekasi Jawa Barat. Rangkaian Rakornis diawali dengan persembahan tari pembuka, laporan Kepala Badan Litbangkes, Sambutan Kepala BPS Pusat dan pembukaan dan pengarahan oleh Menkes dengan pemukulan gong. Pada pembukaan  tersebut, Menkes didampingi oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes, dr. Siswanto, MHP, DTM, serta Deputi Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS), M. Sairi Hasbullah.

Mengawali sambutannya pada acara tersebut, Menkes mengaku bangga karena pelaksanaan Riskesdas 2018 berbeda dengan pelaksanaan Riskesdas pada tahun-tahun sebelumnya. Secara khusus mengapresiasi pelaksanaan Riskesdas 2018 yang akan dilaksanakan secara terintegrasi dengan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS.

“Kita harus melakukan revolusi data, agar bisa lebih kita manfaatkan dalam pengambilan keputusan dalam (melakukan) intervensi”, kata Menkes Nila F. Moeloek.

Menkes menyatakan bahwa hal ini merupakan momentum yang sangat penting sebagai upaya mendukung kebijakan “one data” dari Presiden Jokowi. Sehingga diharapkan analisis hasil dapat dilakukan lebih komprehensif dan dapat mengungkap faktor-faktor di luar kesehatan yang berpengaruh terhadap kesuksesan pembangunan kesehatan.

“Nanti (integrasi Riskesdas) dengan Susenas kita akan (bisa) melihat korelasi kesehatan dengan sosial ekonomi. Kami kesehatan juga tidak apa-apa pak, bila seandainya sosial ekonomi tidak baik di sini. Dan banyak juga masalah pada determinan yang lain yg mempengaruhi kesehatan, sehingga bisa dipikirkan solusi yang lebih holistik”, ujarnya.

Sementara itu untuk pelaksanaan Riskesdas 2018 ini di seluruh wilayah D.I. Yogyakarta, membutuhkan 124 tenaga enumerator sebagai pengumpul data lapangan, 376 blok sampel, 3.760 rumah tangga dan sekitar 15.040 anggota rumah tangga terdiri atas sampel kesehatan masyarakat dan biomedis. Untuk itu akan dilakukan rekruetmen enumerator secara terbuka dalam waktu dekat ini untuk dapat memenuhi kebutuhan enumerator sebagai pengumpul data di lapangan. Rekruemen nantinya akan dilakukan oleh Dinas Kesehatan DIY bekerja sama dengan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.

Bagikan